Nama
: Rani Hadyaningtyas
Kelas
: 2PA07
Npm
: 18514141
Kesehatan Mental#
Pendahuluan
Normal adalah keadaan sehat (tidak
patologis) dalam hal fungsi keseluruhan. Sedangkan Abnormal adalah
menyimpang dari yang normal (tidak biasa terjadi).(Maramis, 1999). Perilaku
Normal adalah perilaku yang adekuat (serasi dan tepat) yang dapat
diterima oleh masyarakat pada umumnya. Sedangkan Perilaku Pribadi
Abnormal adalah sikap hidup yang sesuai dengan pola kelompok masyarakat
tempat seseorang berada sehingga tercapai suatu relasi interpersonal dan
intersosial yang memuaskan. (Kartini Kartono, 1989
Perilaku
abnormal dengan gangguan kejiwaan, banyak disalah artikan oleh masyarakat awam
dan selalu bertindak negatif serta menjauhinya. Pengertian salah paham pada
kaum awam, sangat penting mengetahui salah paham di dalam masyarakat luas. Sebelum
kita masuk ke dalam gangguan-gangguan psikologis, ada baiknya kita mengtahui
dulu perbedaan antara normal dan abnormal.
Normal
sebagai averagel rata-rata :
·
Penggolongan kasar, tergantung jumlah
populasi, bisa jadi hanya perilaku pada satu kelompok tertentu.
·
Ada perbedaan standar terhadap kelompok rata-rata
pada masyarakat.
·
Kerugian :
1. Biasanya
dipakai untuk riset (mis: intelegensi, 2 SD dibawah normal alias cacat mental, 2 SD diatas normal alias
superior).
2. Memudahkan
memilah-milah mana perilaku yang normal-abnormal.
3. Tingkah
laku yang dinilai patologis bila banyak anak yang mengalami maka disebut
normal.
4. Bisa
langsung dengan cepat menentukan normal-abnormal.
·
Keuntungan :
1. Ada
standar: ada acuannya untuk dikatakan normal.
2. Berhubungan
dengan kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan lingkaran budayayang
memiliki norma-norma yang telah disepakati bersama dan gambaran kepribadiannya
mendekati gambaran kepribadian masyarakatnya.
3. Mengacu
pada konsep statistik: kebanyakan orang.
Normal
sebagai ideal :
·
Yang belum mencapai ideal alias
abnormal.
·
Kerugian:
1. Ada
upaya untuk mencapai ideal.
·
Keuntungan :
1. Ada
patokan ideal.
2. Banyak
digunakan untuk memacu seseorang (support)
3. Menolak
perhitungan statistik.
4. Keadaan
yang diidam-idamkan tetapi jarang tercapai karena ada hambatan psikologis.
Normal
sebagai penyesuaian diri :
·
Normal -> dapat beradaptasi/
menyelesaikan masalah secara efektif dengan pengalaman hidup dalam mengatasi
masalah tidak mudah menyerah.
·
Lebih kepada tingkah laku adaptif.
·
Kemampuan adaptasi/ adjustment tidak merugikan siapapun dengan tetap bisa
mengekspresikan diri.
·
Abnormal cara berperilaku akan merusak
kemampuan untuk hidup secara efektif dan produktif.
·
Abnormal : pikiran/tindakan yang merusak
kemampuannya untuk sukses dalam menghadapi tantangan dalam hidup (perilaku yang
mengganggu kehidupan sehari-hari).
·
Keuntungan :
1. Digunakan
dalam penanganan masalah-masalah klinis (intervensi).
2. Unik,
individual.
Pribadi yang normal itu
secara relatif dekat sekali dengan integrasi jasmaniah dan rohaniah yang ideal
kehidupan psikisnya kurang lebih stabil sifatnya, tidak banyak memendam
konflik-konflik batin, tenaga dan jasmaniahnya sehat selalu pribadi yang abnormal mempunyai atribut
secara relatif mereka itu jauh daripada status integrasi. Ada tingkat
atribut “ inferior “ dan “superior”.
Pada kenyataannya, sering susah untuk membedakan antara
orang normal dan abnormal, kecuali pada kasus-kasus yang ekstrim. Masyarakat itu
merupakan hakim yang “keras” dan ”kejam”
terhadap tingkah laku para anggotanya dan cenderung tidak mentolerir
tingkah laku yang menyimpang dari normal umum yang ada. Tetapi penyimpangan
yang bersifat radiakal dan bisa menyebabkan kekacauan pada perorangan dan
lingkungannya, sangat dikecam. Dan seseorang tersebut dianggap sebagai pribadi
yang abnormal.
Analisis
Contoh kasus :
Ratna berusia 10 tahun seringkali
mengeluhkan akhir-akhir ini melihat seorang anak perempuan kecil yg
mengikutinya ke mana saja ia pergi. Ratna bahkan seringkali terlihat sedang
bercakap-cakap dgn anak kecil tsb. Anak kecil itu seringkali memberitahu Ratna
akan situasi2 bahaya yg akan dihadapi di depannya. Orangtua Ratna merasa takut
dgn perilaku anaknya tsb. Orangtua Ratna sangat berharap perilaku anaknya akan
berubah. Keluarga pernah membawa Ratna ke seorang Kyai dan beliau mengatakan
bahwa Ratna memang memiliki kemampuan ‘indera keenam’ sehingga dapat melakukan
interaksi dgn makhluk gaib.
Analisa :
Secara
awam kita pasti berpendapat bahwa Ratna ini memiliki perilaku abnormal. Hal ini
kita lihat dari masalah yang di alami oleh Ratna, dimana di selalu merasa di
ikuti oleh anak kecil kemana saja dia pergi. Dia bisa berbicara sendiri tanpa
ada lawan bicaranya yang secara kasat mata tidak bisa dilihat oleh orang
disekitarnya.
Namun
bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan Ratna ??? Apakah perilakunya normal
atau abnormal ???
Mari kita gunakan
pendekatan-pendekatan berikut ini dalam menganalisanya.
a. Pendekatan
Statistik
Pendekatan
ini beranggapan bahwa orang yang sehat secara mental/normal adalah orang yang
melakukan tingkah laku yang umumnya dilakukan oleh banyak orang lainnya. Atau
dengan kata lain, suatu tingkah laku disebut sehat bila tingkah laku tersebut
memiliki frekuensi kemunculan yang tinggi dalam populasi. Sebaliknya, orang
yang bertingkah laku tidak seperti tingkah laku kebanyakan orang dianggap
sebagai orang yang tidak normal atau tidak sehat.
Menurut
pendekatan ini bisa kita simpulkan bahwa Ratna memiliki perilaku abnormal,
karena tingkah laku yang dia lakukan tidak lazim dilakukan oleh kebanyakan
orang.
b.
Pendekatan Normatif
Pendekatan
ini melihat orang secara sehat mental apakah tingkah laku orang tersebut
menyimpang dari norma sosial yang berlaku dimasyarakat ataukah tidak. Tolak
ukur yang dipakai dalam pendekatan ini adalah norma-norma yang berlaku
dimasyarakat.
Menurut
masyarakat umum, perilaku yang ditampilkan oleh Ratna di luar batas logika
manusia. Norma yang berlaku dimasyarakat selalu memandang sesuatu berdasarkan
sikap kepantasan dan kewajaran.
c.
Pendekatan Distress Subjektif
Pendekatan
ini beranggapan orang dianggap normal atau sehat bila dia merasa sehat atau
tidak ada persoalan dan tekanan yang menggangunya.
Kelemahan
pendekatan ini adalah karena menekankan pada subjektifitas individu
mengakibatkan tidak ada ukuran yang pasti sehingga semuanya menjadi serba
relatif. Tergantung situasi yang dihadapi.
Menurut
pendekatan ini, perilaku yang ditampilkan bisa saja dianggap normal. Ketika dia
berada dalam lingkungan yang mengerti akan hal ghaib, orang tersebut bisa
mengatakan bahwa Ratna normal, karena dia memiliki kelebihan yang jarang
dimiliki oleh orang lain, yaitu indera ke enam.
d.
Pendekatan Fungsi/Peranan Sosial
Pendekatan
ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang berdasarkan mampu atau
tidaknya orang tersebut menjalankan kegiatan hariannya. Orang dianggap sehat
atau normal bila dia mampu menjalankan fungsi dan peranannya dalam masyarakat
dan tidak mengalami gangguan dalam menjalankan tugas-tugas hariannya.
Bisa
dikatakan bahwa Ratna terganggu dengan "kelebihan" yang dia punya
dalam menjalani hari-harinya. Orang-orang terdekatnya juga terganggu dengan
perilaku "aneh" yang ditampilkan Ratna.
e.
Pendekatan Interpersonal
Pendekatan
ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang atau apakah orang tersebut
mampu menyesuaikan diri dilihat berdasarkan kemampuan seseorang untuk menjalin
hubungan yang interpersonal dengan orang lain.
Ratna
memiliki dunianya sendiri yang membuat dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan
lingkungan.
Dari uraian diatas, kita bisa menarik kesimpulan
bahwa secara garis besar dengan menggunakan beberapa pendekatan, Ratna
tergolong dalam perilaku abnormal. Abnormal disini bisa dikatakan karena dia
mempunyai "dunia sendiri" dan perilaku yang ditampilkannya juga
berbeda dari kebanyakan orang.
http://rendra-afandi.blogspot.co.id/2012/02/contoh-kasus-dan-analisa.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar