Rabu, 23 Maret 2016

Konsep Normal-Abnormal dalam Masyarakat



Nama          : Rani Hadyaningtyas
Kelas          : 2PA07
Npm           : 18514141
Kesehatan Mental#

Pendahuluan
            Normal adalah keadaan sehat (tidak patologis) dalam hal fungsi keseluruhan. Sedangkan Abnormal adalah menyimpang dari yang normal (tidak biasa terjadi).(Maramis, 1999). Perilaku Normal adalah perilaku yang adekuat (serasi dan tepat) yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Sedangkan Perilaku Pribadi Abnormal adalah sikap hidup yang sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat seseorang berada sehingga tercapai suatu relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan. (Kartini Kartono, 1989
Perilaku abnormal dengan gangguan kejiwaan, banyak disalah artikan oleh masyarakat awam dan selalu bertindak negatif serta menjauhinya. Pengertian salah paham pada kaum awam, sangat penting mengetahui salah paham di dalam masyarakat luas. Sebelum kita masuk ke dalam gangguan-gangguan psikologis, ada baiknya kita mengtahui dulu perbedaan antara normal dan abnormal.
Normal sebagai averagel rata-rata :
·         Penggolongan kasar, tergantung jumlah populasi, bisa jadi hanya perilaku pada satu kelompok tertentu.
·         Ada perbedaan standar terhadap kelompok rata-rata pada masyarakat.
·         Kerugian :
1.      Biasanya dipakai untuk riset (mis: intelegensi, 2 SD dibawah normal alias  cacat mental, 2 SD diatas normal alias superior).
2.      Memudahkan memilah-milah mana perilaku yang normal-abnormal.
3.      Tingkah laku yang dinilai patologis bila banyak anak yang mengalami maka disebut normal.
4.      Bisa langsung dengan cepat menentukan normal-abnormal.
·         Keuntungan :
1.      Ada standar: ada acuannya untuk dikatakan normal.
2.      Berhubungan dengan kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan lingkaran budayayang memiliki norma-norma yang telah disepakati bersama dan gambaran kepribadiannya mendekati gambaran kepribadian masyarakatnya.
3.      Mengacu pada konsep statistik: kebanyakan orang.
Normal sebagai ideal :
·         Yang belum mencapai ideal alias abnormal.

·         Kerugian:
1.      Ada upaya untuk mencapai ideal.
·         Keuntungan :
1.      Ada patokan ideal.
2.      Banyak digunakan untuk memacu seseorang (support)
3.      Menolak perhitungan statistik.
4.      Keadaan yang diidam-idamkan tetapi jarang tercapai karena ada hambatan psikologis.
Normal sebagai penyesuaian diri :
·         Normal -> dapat beradaptasi/ menyelesaikan masalah secara efektif dengan pengalaman hidup dalam mengatasi masalah tidak mudah menyerah.
·         Lebih kepada tingkah laku adaptif.
·         Kemampuan adaptasi/ adjustment tidak merugikan siapapun dengan tetap bisa mengekspresikan diri.
·         Abnormal cara berperilaku akan merusak kemampuan untuk hidup secara efektif dan produktif.
·         Abnormal : pikiran/tindakan yang merusak kemampuannya untuk sukses dalam menghadapi tantangan dalam hidup (perilaku yang mengganggu kehidupan sehari-hari).
·         Keuntungan :
1.      Digunakan dalam penanganan masalah-masalah klinis (intervensi).
2.      Unik, individual.
Pribadi yang normal itu secara relatif dekat sekali dengan integrasi jasmaniah dan rohaniah yang ideal kehidupan psikisnya kurang lebih stabil sifatnya, tidak banyak memendam konflik-konflik batin, tenaga dan jasmaniahnya sehat selalu pribadi yang abnormal mempunyai atribut secara relatif mereka itu jauh daripada status integrasi.  Ada tingkat atribut “ inferior “ dan “superior”.
            Pada kenyataannya, sering susah untuk membedakan antara orang normal dan abnormal, kecuali pada kasus-kasus yang ekstrim. Masyarakat itu merupakan hakim yang “keras” dan  kejam” terhadap tingkah laku para anggotanya dan cenderung tidak mentolerir tingkah laku yang menyimpang dari normal umum yang ada. Tetapi penyimpangan yang bersifat radiakal dan bisa menyebabkan kekacauan pada perorangan dan lingkungannya, sangat dikecam. Dan seseorang tersebut dianggap sebagai pribadi yang abnormal.



Analisis
Contoh kasus :
Ratna berusia 10 tahun seringkali mengeluhkan akhir-akhir ini melihat seorang anak perempuan kecil yg mengikutinya ke mana saja ia pergi. Ratna bahkan seringkali terlihat sedang bercakap-cakap dgn anak kecil tsb. Anak kecil itu seringkali memberitahu Ratna akan situasi2 bahaya yg akan dihadapi di depannya. Orangtua Ratna merasa takut dgn perilaku anaknya tsb. Orangtua Ratna sangat berharap perilaku anaknya akan berubah. Keluarga pernah membawa Ratna ke seorang Kyai dan beliau mengatakan bahwa Ratna memang memiliki kemampuan ‘indera keenam’ sehingga dapat melakukan interaksi dgn makhluk gaib.

Analisa : 
Secara awam kita pasti berpendapat bahwa Ratna ini memiliki perilaku abnormal. Hal ini kita lihat dari masalah yang di alami oleh Ratna, dimana di selalu merasa di ikuti oleh anak kecil kemana saja dia pergi. Dia bisa berbicara sendiri tanpa ada lawan bicaranya yang secara kasat mata tidak bisa dilihat oleh orang disekitarnya.
Namun bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan Ratna ??? Apakah perilakunya normal atau abnormal ???
Mari kita gunakan pendekatan-pendekatan berikut ini dalam menganalisanya. 
a. Pendekatan Statistik
Pendekatan ini beranggapan bahwa orang yang sehat secara mental/normal adalah orang yang melakukan tingkah laku yang umumnya dilakukan oleh banyak orang lainnya. Atau dengan kata lain, suatu tingkah laku disebut sehat bila tingkah laku tersebut memiliki frekuensi kemunculan yang tinggi dalam populasi. Sebaliknya, orang yang bertingkah laku tidak seperti tingkah laku kebanyakan orang dianggap sebagai orang yang tidak normal atau tidak sehat.
Menurut pendekatan ini bisa kita simpulkan bahwa Ratna memiliki perilaku abnormal, karena tingkah laku yang dia lakukan tidak lazim dilakukan oleh kebanyakan orang.
b. Pendekatan Normatif
Pendekatan ini melihat orang secara sehat mental apakah tingkah laku orang tersebut menyimpang dari norma sosial yang berlaku dimasyarakat ataukah tidak. Tolak ukur yang dipakai dalam pendekatan ini adalah norma-norma yang berlaku dimasyarakat.
Menurut masyarakat umum, perilaku yang ditampilkan oleh Ratna di luar batas logika manusia. Norma yang berlaku dimasyarakat selalu memandang sesuatu berdasarkan sikap kepantasan dan kewajaran.
c. Pendekatan Distress Subjektif
Pendekatan ini beranggapan orang dianggap normal atau sehat bila dia merasa sehat atau tidak ada persoalan dan tekanan yang menggangunya.
Kelemahan pendekatan ini adalah karena menekankan pada subjektifitas individu mengakibatkan tidak ada ukuran yang pasti sehingga semuanya menjadi serba relatif. Tergantung situasi yang dihadapi.
Menurut pendekatan ini, perilaku yang ditampilkan bisa saja dianggap normal. Ketika dia berada dalam lingkungan yang mengerti akan hal ghaib, orang tersebut bisa mengatakan bahwa Ratna normal, karena dia memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain, yaitu indera ke enam.


d. Pendekatan Fungsi/Peranan Sosial
Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang berdasarkan mampu atau tidaknya orang tersebut menjalankan kegiatan hariannya. Orang dianggap sehat atau normal bila dia mampu menjalankan fungsi dan peranannya dalam masyarakat dan tidak mengalami gangguan dalam menjalankan tugas-tugas hariannya.
Bisa dikatakan bahwa Ratna terganggu dengan "kelebihan" yang dia punya dalam menjalani hari-harinya. Orang-orang terdekatnya juga terganggu dengan perilaku "aneh" yang ditampilkan Ratna.
e. Pendekatan Interpersonal
Pendekatan ini melihat normal atau sehat tidaknya seseorang atau apakah orang tersebut mampu menyesuaikan diri dilihat berdasarkan kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan yang interpersonal dengan orang lain.
Ratna memiliki dunianya sendiri yang membuat dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Dari uraian diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa secara garis besar dengan menggunakan beberapa pendekatan, Ratna tergolong dalam perilaku abnormal. Abnormal disini bisa dikatakan karena dia mempunyai "dunia sendiri" dan perilaku yang ditampilkannya juga berbeda dari kebanyakan orang.

Daftar Pustaka :
http://rendra-afandi.blogspot.co.id/2012/02/contoh-kasus-dan-analisa.html