Proses Berpikir Pada Anak
Berpikir adalah memproses informasi secara mental atau secara kognitif dan merupakan penyusunan ulang atau manipulasi kognitif baik informasi dari lingkungan maupun simbol-simbol yang disimpan dalam long term memory. Salah satu aspek dalam teori pikiran adalah memperhatikan perkembangan
pengetahuan anak-anak dalam apa yang dimaksud dengan berpikir dan
menunjukkan aspek lain dalam kognisi, sebuah topik yang berhubungan
dengan metakognisi sebaik dalam menggambarkan perwakilan
(representation). Semakin sering anak-anak melatih otot berpikirnya, akan semakin mudah
menerima pelajaran di sekolah. Inilah beberapa cara untuk meningkatkan
kemampuan berpikir anak :
“Hasil penelitian menyatakan, orang tua punya pengaruh jangka
panjang bagi perkembangan memori anak dengan cara sering memberikan
banyak pertanyaan yang spesifik saat mereka kecil,” kata Catherine
Haden, Ph.D, guru besar psikologi dari Loyola, University Chicago.
Contoh: usai dari kebun binatang, tanyakan pada anak Anda, “apa warna
binatang favoritnya?” atau tanyakan, “seperti apa bentuk kandang burung
elang? upaya memberikan pertanyaan detail akan membantu ingatannya.
- Lakukan permainan yang berhubungan dengan ingatan
Bermain kartu akan melatih konsentrasi anak. Atau saaat di mobil,
buatlah permainan sederhana seperti mengatakan “saya akan pergi ke kebun
binatang, di sana saya akan melihat binatang…..” biarkan anak
melengkapi kalimat tersebut. Sebelumnya mereka harus mengikuti kata-kata
yang Anda ucapkan.
Aktivitas melihat atau mengamati akan membantu menguatkan pikiran si
kecil. Contoh, saat mengajarkan arah kiri coba minta kedua tangan anak
Anda membentuk huruf L (left=kiri). Atau saat bilang kanan minta tangan
kanannya menunjuk arah kanan. Atau gunakan alat peraga untuk
mengajarkanya benda-benda yang ada di rumah seperti handuk, sapu, atau
lampu.
- Lakukan terlebih dahulu yang lebih berat
Jika diberi tugas membaca puisi tanpa menggunakan teks oleh sekolahnya,
bantu si anak dengan cara menghafal bagian puisi yang kata-katanya
panjang lebih dahulu. Jika anak terbiasa dengan sesuatu yang berat, saat
diberikan yang ringan, ia akan cepat mengingat.
- Latihan, latihan, latihan
Buatlah kuis mengenai susunan huruf dan angka dalam tabel. Kemudian
minta mereka menyebutkan angka-angka dan huruf yang ada di tabel
tersebut tanpa melihat. Usai mengetes kemampuan mengingatnya, mita
mereka menulis kata yang paling sulit diingat di tabel itu. Si anak akan
merasa kalau berpikir adalah proses aktif. Saat mereka bisa menyebut
semua angka dan huruf dengan benar, mereka akan minta yang lebih sulit
lagi, artinya memorinya akan terus dilatih.
Contoh kasus berpikir pada anak :
Dalam penelitian DeLoache, anak-anak berumur 2 dan 3 tahun diminta untuk
menemukan mainan yang tersembunyi dalam sebuah ruangan. Sebelum mencari
objek, mereka diperlihatkan sebuah gambar atau model skala ruangan,
dengan lokasi persembunyian objek dibuat jelas di dalam gambar atau
model. Kemudian anak-anak disuruh menemukan mainan di ruangan.Setelah
mencari mainan di ruangan itu, mereka kembali pada model dan diminta
untuk menemukan dimana miniatur mainan itu disembunyikan. Jika anak-anak
tidak dapat menemukan dimana miniatur mainan sesungguhnya diruangan
tapi dapat menemukan miniatur mainan dalam model skala, kegagalan mereka
untuk menemukan mainan asli tidak dapat disebabkan karena mereka lupa
dimana miniatur itu disembunyikan tapi bahwa anak itu tidak dapat
menggunakan model dalam bentuk simbolik.
Proses Berbahasa Pada Anak
Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan anak
dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan
untuk bertukar gagasan, pikiran, dan emosi. Keterlambatan
bicara
adalah
keluhan utama yang
sering
dicemaskan
dan dikeluhkan orang tua kepada dokter.
Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa
laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 - 10% pada anak sekolah.
Adapun penyebab dari keterlambatan bicara ini
disebabkan oleh beragam faktor, seperti :
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan
keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia
akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah
satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.
- Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai
kemampuan oral-motor
Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area
oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan
hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya,
si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk
menghasilkan bunyi kata tertentu.
Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan
etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula
bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan
bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada
keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya
kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.
- Masalah Pembelajaran dan Komunikasi dengan Orang Tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki
peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan
berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka
berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak
perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau
membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun.
Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara
satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat.
Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri
sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu
memaksakan dan "memasukkan" segala instruksi, pandangan mereka
sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya
untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara,
menggunakan kalimat dan berbahasa.
Anak batita yang banyak nonton TV
cenderung akan menjadi pendengar pasif, hanya menerima tanpa harus mencerna dan
memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi
adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya
traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun
acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang
kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang).
Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat
banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih
banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon
apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan
bicara akan terhambat perkembangannya.
Contoh kasus proses berbahasa pada anak :
Contohnya,
seorang anak yang berusia 3 tahun rata-rata hanya dapat mengatakan kata
“mama”, “papa”, “hai”, dan kata-kata lain yang mudah diucapkan oleh
mereka. Hal tersebut dikarenakan kognitif mereka yang baru akan
berkembang, sehingga dalam berbahasa pun mereka masih menggunakan
kata-kata yang sederhana.
Sumber :
http://psikologi.or.id/mycontents/uploads/2010/11/thinking.pdf
http://www.parentsindonesia.com/article.php?type=article&cat=kids&id=521
https://psychologystudyclubuii.wordpress.com/2012/10/23/proses-berpikir-pada-anak-dan-pengaruhnya-terhadap-memori/
http://www.e-psikologi.com/artikel/anak/gangguan-keterlambatan-bicara-dan-faktor-penyebab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar